BERBAGI CERITA, PENGALAMAN, DAN KISAH SERU

Rabu, 19 Oktober 2016

My Way is Mine



follow instagram @keseruanku
Muhammad Rizki Aulia

“Banyak jalan untuk mencapai apa yang kita inginkan, jalan itu bukan hanya satu tapi bisa kita ciptakan dengan berbagai macam pilihan yang kita buat”
Pertengahan tahun 2010, aku adalah mahasiswa di sebuah kampus ternama dan popular di kota Surabaya,  pasti terpikirkan kampus apa yang ternama di Surabaya?… hahahaaa… kampus UNAIR, Kampus ITS?,.. yapppp bener aku saat itu sedang kuliah di ITS dengan jurusan favorit teknik sipil.
Yang aku lakukan saat berada di Surabaya bukan lah kuliah, tapi jalan-jalan gratis, wkwkwkw… loh kok bisa? Iya dong saat itu aku kan sedang  dapet beasiswa dari pemerintah sebagai “santri berprestasi”. Hah santri berprestasi??? Aku???  Trus kuliahnya gimana kalau jalan-jalan terus disana? Pasti kacau dong??? Yap bener banget kuliahku kacau total disana,  Aku pun bingung menceritakan ini bagaimana prosesnya hahahaaa.
Jadi gini, Waduhh jadi flashback lagi nih, dulu aku mondok di pesantren modern misbahul Ulum di kota Lhokseuame aceh, nah ketka kelas akhir, Pengasuhan pendidikan pesantren yaitu ustad Ali mendapatkan undangan dari pemerintah untuk mengutus utusan dari pesantren ku untuk mengikuti tes beasiswa santri berprestasi, aku sih cuek dan tidak merespon berita itu ketika kabar berita itu disampaikan bagian pendidikan pondopk kepada santri kelas akhir, banyak yang  mengajukan diri pada saat itu, tapi tidak semua yang mengajukan diterima bagian pendidikan namanya., tiba-tiba aku disapa oleh ustad Ali, “kamu kenapa gak daftar ikut program beasiswa santri berprestasi?” “malas saya ustad, saingannya banyak, dan mana mungkin saya lulus ikut-ikut gitu” ujar ku secara singkat, kemudian “gak boleh gitu, kamu saya daftarkan untuk ikut program beasiswa ini” sahut ustad tersebut , dan aku hanya bisa menjawab “iya ustad”
Singkat cerita, banyak berkas yang harus kusiapkan untuk program beasiswa ini, berhubung jarak rumah ku dengan pondok itu sangat jauh, sekitar  4 jam perjalanan darat, aku hanya menyiapkan berkas yang ada pada ku saat itu saja, selebihnya aku “numpang” dari berkas tetanggga pondok yang kukenal dan kemudian berkas itu aku kumpulkan seadanya.
Jadwal pengumuman kelulusan berkas pun tiba, dan Alhamdulillah kami semua lulus berkas , kemudian ustad Ali menyampaikan arahan tentang tes beasiswa ini yang akan dilaksanakan di Kota Banda Aceh dua minggu lagi, dan saat beliau menyampaikan arahan, beliau mengatakan “sebenarnya saya sudah pesimis dari awal dengan berkasnya kamu Rizki, banyak gak lengkapnya, tapi piagam prestasi kamu banyak yang unggul disitu, mungkin itu yang menyelamatkan berkas kamu saat itu”, aku hanya bisa cengengesan pada saat itu.
Hari tes ujian program beasiswa telah tiba, kami pun semua berangkat ke kota Banda Aceh dengan mobil rental dan membawa kebutuhan seadanya. Sedikit gambaran, yang mengikuti tes program beasiswa ini dari pondok ku adalah semuanya juara kelas, ada 9 orang yang ikut termasuk aku, dan hanya akulah yang ratingnya bukan apa-apa diantara mereka. 2 hari ujian tes ini dilaksanakan, dan ada sekitas seribuan peserta yang mengikuti tes, kebayang gak, mereka semua adalah juara kelas, dari masing-masing sekolahnya, lah aku siapaaaa?????? Juara bukan, pintar juga tidak, dan akhirnya aku hanya semampunya mengisi semua soal ujian tes nya.
Dua minggu setelah mengikuti tes ujian program beasiswa tersebut, tibalah waktu yang dinanti-nantikan yaitu pengumuman hasil tes ujiannya, dan yang tidak disangka, dari sekian banyak peserta yang ikut, hanya 11 orang yang lulus dan menerima program beasiswa santri berprestasi, aku sengaja tidak memperdulikan hasil tes tersebut, tiba-tiba beberapa orang tua dirumah menelpon dan mengucapkan “selamat ya lulus beasiswa ke kampus ITS”, hah???? Aku bingung, ini sebuah sindiran, ledekan, atau candaan dari orang tuaku, atau ini betul terjadi. Beberapa menit kemudian, ustad Ali memanggilku dan mengucapkan selamat juga kepadaku dan menunjukkan hasil ujian peserta yang lulus beasiswa. Aku kaget, namaku ada pada urutan 11 nama tersebut, dan teman-teman pondokku tidak ada yang lulus kecuali aku. Antara percaya dan tidak percaya rasaku saat itu.
Tapi, bukan proses seleksi beasiswa ini yang mau kusampaikan, kita kembali ke laptop. Singkat cerita, aku berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan studi dengan beasiswa di kampus ITS, ternyata aku belum siap untuk melanjutkan studi di kota besar.  Aku hanya masuk kelas kuliah selama setengah semester pertama, selebihnya aku menghabiskan waktuku untuk jalan-jalan mengelilingi pulau Jawa dan Bali.
Akhir semester nilaiku anjlok, wajar sih karena memang itu ulahku, aku yang sudah memulai kekacauan itu. Teman-teman kampusku semua menasehatiku dan meminta aku tetap bertahan di ITS, mbak Rahmi pernah menasihatiku “lebih baik kita buruk ditempat yang baik, daripada kita baik ditempat yang baik”. Tapi aku tidak sepakat nasihat itu. Menurutku, belum tentu tempat yang baik akan menjadikanku baik, buktinya sekarang aku mengulah, lebih baik aku berada ditempat yang biasa-biasa saja tapi aku bisa memperbaiki kesalahanku dan menjadi berarti bagi orang lain.
Akhirnya aku memilih untuk mundur dari tempat yang dianggap orang banyak perfect, dan aku memutuskan untuk melanjutkan studi di kota Medan. Aku yang menentukan jalan itu, bukan orang lain, ternyata banyak perubahan posotif yang terjadi setelah aku berada di kota Medan.
Intinya seperti ini, tidak ada jaminan kampus yang kece dengan grade tinggi akan membawamu kepada kesuksesan, kampus sederhana, jika dioptimalkan proses pembelajarannya, kita bisa mencapai kata sukses tersebut. Buatlah jalanmu sendiri, tidak baik berharap pada jalan orang lain.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com