![]() |
| Muhammad Rizki Aulia |
“Banyak jalan untuk mencapai apa
yang kita inginkan, jalan itu bukan hanya satu tapi bisa kita ciptakan dengan
berbagai macam pilihan yang kita buat”
Pertengahan tahun 2010, aku
adalah mahasiswa di sebuah kampus ternama dan popular di kota Surabaya, pasti terpikirkan kampus apa yang ternama di
Surabaya?… hahahaaa… kampus UNAIR, Kampus ITS?,.. yapppp bener aku saat itu
sedang kuliah di ITS dengan jurusan favorit teknik sipil.
Yang aku lakukan saat berada di
Surabaya bukan lah kuliah, tapi jalan-jalan gratis, wkwkwkw… loh kok bisa? Iya
dong saat itu aku kan sedang dapet
beasiswa dari pemerintah sebagai “santri berprestasi”. Hah santri
berprestasi??? Aku??? Trus kuliahnya
gimana kalau jalan-jalan terus disana? Pasti kacau dong??? Yap bener banget
kuliahku kacau total disana, Aku pun
bingung menceritakan ini bagaimana prosesnya hahahaaa.
Jadi gini, Waduhh jadi flashback
lagi nih, dulu aku mondok di pesantren modern misbahul Ulum di kota Lhokseuame
aceh, nah ketka kelas akhir, Pengasuhan pendidikan pesantren yaitu ustad Ali mendapatkan
undangan dari pemerintah untuk mengutus utusan dari pesantren ku untuk
mengikuti tes beasiswa santri berprestasi, aku sih cuek dan tidak merespon
berita itu ketika kabar berita itu disampaikan bagian pendidikan pondopk kepada
santri kelas akhir, banyak yang
mengajukan diri pada saat itu, tapi tidak semua yang mengajukan diterima
bagian pendidikan namanya., tiba-tiba aku disapa oleh ustad Ali, “kamu kenapa
gak daftar ikut program beasiswa santri berprestasi?” “malas saya ustad,
saingannya banyak, dan mana mungkin saya lulus ikut-ikut gitu” ujar ku secara
singkat, kemudian “gak boleh gitu, kamu saya daftarkan untuk ikut program
beasiswa ini” sahut ustad tersebut , dan aku hanya bisa menjawab “iya ustad”
Singkat cerita, banyak berkas
yang harus kusiapkan untuk program beasiswa ini, berhubung jarak rumah ku
dengan pondok itu sangat jauh, sekitar 4
jam perjalanan darat, aku hanya menyiapkan berkas yang ada pada ku saat itu
saja, selebihnya aku “numpang” dari berkas tetanggga pondok yang kukenal dan
kemudian berkas itu aku kumpulkan seadanya.
Jadwal pengumuman kelulusan
berkas pun tiba, dan Alhamdulillah kami semua lulus berkas , kemudian ustad Ali
menyampaikan arahan tentang tes beasiswa ini yang akan dilaksanakan di Kota
Banda Aceh dua minggu lagi, dan saat beliau menyampaikan arahan, beliau
mengatakan “sebenarnya saya sudah pesimis dari awal dengan berkasnya kamu
Rizki, banyak gak lengkapnya, tapi piagam prestasi kamu banyak yang unggul
disitu, mungkin itu yang menyelamatkan berkas kamu saat itu”, aku hanya bisa
cengengesan pada saat itu.
Hari tes ujian program beasiswa
telah tiba, kami pun semua berangkat ke kota Banda Aceh dengan mobil rental dan
membawa kebutuhan seadanya. Sedikit gambaran, yang mengikuti tes program
beasiswa ini dari pondok ku adalah semuanya juara kelas, ada 9 orang yang ikut
termasuk aku, dan hanya akulah yang ratingnya bukan apa-apa diantara mereka. 2
hari ujian tes ini dilaksanakan, dan ada sekitas seribuan peserta yang mengikuti
tes, kebayang gak, mereka semua adalah juara kelas, dari masing-masing
sekolahnya, lah aku siapaaaa?????? Juara bukan, pintar juga tidak, dan akhirnya
aku hanya semampunya mengisi semua soal ujian tes nya.
Dua minggu setelah mengikuti tes ujian
program beasiswa tersebut, tibalah waktu yang dinanti-nantikan yaitu pengumuman
hasil tes ujiannya, dan yang tidak disangka, dari sekian banyak peserta yang
ikut, hanya 11 orang yang lulus dan menerima program beasiswa santri
berprestasi, aku sengaja tidak memperdulikan hasil tes tersebut, tiba-tiba
beberapa orang tua dirumah menelpon dan mengucapkan “selamat ya lulus beasiswa
ke kampus ITS”, hah???? Aku bingung, ini sebuah sindiran, ledekan, atau candaan
dari orang tuaku, atau ini betul terjadi. Beberapa menit kemudian, ustad Ali
memanggilku dan mengucapkan selamat juga kepadaku dan menunjukkan hasil ujian
peserta yang lulus beasiswa. Aku kaget, namaku ada pada urutan 11 nama
tersebut, dan teman-teman pondokku tidak ada yang lulus kecuali aku. Antara percaya
dan tidak percaya rasaku saat itu.
Tapi, bukan proses seleksi
beasiswa ini yang mau kusampaikan, kita kembali ke laptop. Singkat cerita, aku
berangkat ke Surabaya untuk melanjutkan studi dengan beasiswa di kampus ITS,
ternyata aku belum siap untuk melanjutkan studi di kota besar. Aku hanya masuk kelas kuliah selama setengah
semester pertama, selebihnya aku menghabiskan waktuku untuk jalan-jalan
mengelilingi pulau Jawa dan Bali.
Akhir semester nilaiku anjlok, wajar
sih karena memang itu ulahku, aku yang sudah memulai kekacauan itu. Teman-teman
kampusku semua menasehatiku dan meminta aku tetap bertahan di ITS, mbak Rahmi
pernah menasihatiku “lebih baik kita buruk ditempat yang baik, daripada kita
baik ditempat yang baik”. Tapi aku tidak sepakat nasihat itu. Menurutku,
belum tentu tempat yang baik akan menjadikanku baik, buktinya sekarang aku
mengulah, lebih baik aku berada ditempat yang biasa-biasa saja tapi aku bisa
memperbaiki kesalahanku dan menjadi berarti bagi orang lain.
Akhirnya aku memilih untuk mundur
dari tempat yang dianggap orang banyak perfect, dan aku memutuskan untuk
melanjutkan studi di kota Medan. Aku yang menentukan jalan itu, bukan orang
lain, ternyata banyak perubahan posotif yang terjadi setelah aku berada di kota
Medan.
Intinya seperti ini, tidak ada
jaminan kampus yang kece dengan grade tinggi akan membawamu kepada kesuksesan,
kampus sederhana, jika dioptimalkan proses pembelajarannya, kita bisa mencapai
kata sukses tersebut. Buatlah jalanmu sendiri, tidak baik berharap pada jalan
orang lain.







0 komentar:
Posting Komentar